1 years after thesis

okeee..long time no blogging for awhile :[

Disini saya bercuap2 setelah hampir setahun lamanya ga buka blog sama sekali. Yang gara2 skripsi lah, ngurus PPL, KKN, ujian proposal, ujian skripsi dan semua yang berkaitan dengan dunia perkuliahan sudah terlewatkan. Alhamdulillah berjalan dengan lancar meski agak terseot-seot :p itu semua saya lakukan demi mencapai apa yang aku targetkan. And finally, saya lulus kuliah hanya memakan waktu 3,5 tahun. Berapa IPK saya? Jangan ditanya, ga begitu jelek tapi juga ga terlalu bagus. Saya sudah cukup puas dengan IPK 3.58. Gak gampang dan gak begitu susah bisa lulus di semester 7. Yang penting ada kemauan, pantang menyerah, dan pintar loby-loby ke dosen (lhooo……hahaa). Yaa kenyataannya emang gitu.

Okeey, yang namanya kuliah udah kelar apalagi yang ditunggu-tunggu selain selebrasi Yudisium dan Wisuda 🙂 oh meeen… Rasanya campur aduk, bahagia karena udah lulus 3,5 tahun, sedih dan terharu karena udah ga ada kuliah dan ga bisa hangout bareng temen2 kuliah lagi 😥 mewek karena udah wisuda kok ga ada PW 😥 aaaaaaaaaaarrrrrrghhhhh tak apalah ga ada Pendamping Wisuda. Aku masih sabar kok nunggu PH (Pendamping Hidup) daripada PW :p lagian PW bisa aja putus. Lhooo lhooo…kok jadi galau gini sih.

Nahh, setelah wisuda saya kira semua kegelisahan akan masa depan ga seberat pas lagi skripsi, ternyataaa makin jahaat brooo. Sebagai seorang lulusan sarjana jangan sampe lah jadi pengangguran. Oh nooooo… Ga banget. Untung setelah wisuda saya ga terlalu lama nganggur. Ada dosen yang nawari aku buat kerja bareng dia. Kontrak kerjanya sih cuma bantu2 di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) kampus, tapi lama2 kok ngasdos juga, hiiiih ga suka ngajar mahasiswa. Akhirnya sesuai dengan kontrak kerja, saya hanya membantu pekerjaan di LBH. Saya piket di kantor sama di posbakum. Kerjaannya sih banyak nganggurnya daripada kerja, sering duduk2, main komputer, ngetik2 dikit kalo disuruh bikin surat kuasa, paling keliatan kerja kalo udah ngurusi berkas perkara yang masuk di LBH sama pas piket di posbakum (pos bantuan hukum) Pengadilan Agama Surabaya. Selama kurang lebih 6 bulan aku ikut LBH emang enak sih kerjaannya santai ga ngoyo, biarpun gajinya dikit tapi ceperannya wooooww, lumayan lah buat beli ini itu 😀 … Tapi yang namanya hati ya kalo emang ga sreg sama pekerjaan pasti ga bakalan betah meskipun dibetah2in, rasanya ga ada passsion buat menyentuh dunia hukum. Berasa panaaas gitu. Dan bertepatan dengan ketidak-sreg-an dengan pekerjaan di LBH, saya mulai ikut seleksi CPNS, berasa getol banget kepengen jadi PNS, bukan karena gaji atau apanya, tapi karena udah males kerja bareng dosen di LBH ini. Pengen resign. Tapi yang namanya harapan udah menggebu-gebu karena pengen sekali masuk seleksi CPNS, walhasil gak lolos 😐 Nah lho… Tapi syukurlah, ga sedih-sedih banget, ga sampe 1 minggu dinyatakan tidak lolos CPNS eh ada tawaran kerja di Kelurahan di Surabaya. Yaaah, meskipun kerja model suku an dan dirasani sana sini EGP daaah. Jalani duluuu, siapa tahu betah. Hari ini udah hampir sebulan kerja di kelurahan. Semoga barakah. Amiin. Byeee… ^^Lady

Iklan

25 November 2013

0

degdeg serrrrr nih…
besok ana mau ujian proposal, bismillah semoga lancaaaarrr 🙂
aamiin

secret admirer–

0

saya lebih suka punya secret admirer ketimbang jadi secret admirer nya seseorang.

apalagi kalau seseorang itu

saya kenal,

teman sendiri,

gak seberapa deket sih, at least keliatannya biasa-biasa aja,

tapi semisal saya tau dia jadiin saya secret admirer nya diaa…………….. o tidaaaakk

bikin gak nyaman mau ngapa-ngapain kalo ada dia. takut salting aja didepan dia.

ah bodo amat.

yang penting saat ini aku mau fokus SKRIPSI (^_^)9

SemangatLidiaaaa 🙂

Makalah Jarimah Sariqah dan Jarimah Hirabah

0

PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Jarimah Sariqah

Secara etimologis sariqah adalah bentuk masdar dari kata “سرق-يسرق- سرقا” yang berarti “أخذ ماله خفية وجيلة” yaitu mengambil harta seseorang secara sembunyi-sembunyi dan dengan tipu daya, sedangkan secara terminologis sariqah adalah pengambilan harta yang dilakukan oleh seorang mukalaf – yang baligh dan berakal – terhadap barang milik orang lain secara diam-diam, apabila barang tersebut mencapai nishab (batas minimal), dari tempat simpanannya, tanpa ada unsur subhat terhadap barang yang diambil tersebut. Besarnya nishab (batas minimal) barang yang diambil berdasarkan hadits shahih Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah yaitu lebih dari seperempat dinar. Jadi jika barang yang diambil itu kurang dari seperempat dinar maka tidak bisa dikategorikan sebagai pencurian yang pelakunya diancam hukuman potong tangan.

Jadi sariqah (pencurian) ialah mengambil barang atau harta orang lain dengan cara sembuyi-sembunyi dari tempat penyimpanannnya yang biasa digunakan untuk menyimpan barang atau harta kekayaan tersebut. Pencurian (Sariqah) dalam syariat islam ada dua macam, yaitu :

  1. Pencurian yang hukumannya had
  2. Pencurian yang hukumannya ta’zir

pencurian yang hukumannya had terbagi menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut :

  1. Pencurian ringan ( اَسِّرْقَةُ الصُّغْرَى )
  2. Pencurian berat (اَسِّرْقَةُ الكُبْرَ  )

Dalam hal ini Abdul Qadir Audah menjelaskan secara detail tentang pencurian besar dan pencurian kecil. Pencurian ringan adalah mengambil harta milik orang lain dengan cara diam-diam (secara sembunyi-sembunyi). Sedang pencurian berat adalah mengambil harta milik orang lain dengan sepengetahuan pemiliknya dan secara paksa. Dalam istilah lain, pencurian berat disebut sebagai jarimah hirabah (perampokan). Alasan mengapa hirabah (perampokan) dimasukkan ke dalam sariqah (pencurian) ialah karena dalam perampokan terdapat segi persamaan dengan pencurian, yakni sama-sama mengambil barang milik orang lain.

 

2.2     Unsur-Unsur Jarimah Sariqah

  1. Pengambilan secara diam-diam

Pengambilan secara diam-diam terjadi apabila pemilik barang (korban pencurian) tidak mengetahui terjadinya pengambilan barang tersebut dan ia tidak merelakannya. Contohnya seperti mengambil barang-barang milik orang lain dari dalam rumah seseorang pada malam hari ketika seseorang tersebut sedang tidur. Dengan demikian apabila pengambilan itu sepengetahuan pemiliknya dan terjadi tanpa kekerasan maka perbuatan tersebut bukan pencurian melainkan perampasan (ikhtilas).

 

  1. Barang yang diambil itu berupa harta

Salah satu unsur yang penting untuk dikenakannya hukuman potong tangan adalah bahwa yang dicuri itu harus barang yang bernilai mal (harta). Apabila barang yang dicuri itu bukan berupa mal (harta), misalnya seperti anak kecil atau hamba sahaya, maka pelakunya tidak dikenai hukuman had. Akan tetapi Imam Malik dan Zhahiriyah berpendapat bahwa anak kecil yang belum tamyiz atau hamba sahaya bisa menjadi objek pencurian dan bisa dikenai hukuman had.

Dalam kaitan dengan barang yang dicuri, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa dikenakan hukuman potong tangan, yaitu :

–          Barang yang dicuri harus berupa mal mutaqawwim,

Yaitu barang yang dianggap bernilai menurut syara’. Jika barang yang dicuri merupakan barang yang haram seperti bangkai, babi, minuman keras dan sejenisnya, maka tidak dapat dikenakan hukuman.

–          Barang tersebut harus barang bergerak,

Hal ini karena pencurian itu memang menghendaki dipindahkannya sesuatu sehingga barang tersebut untuk dikeluarkan dari tempat simpanannya. Maka dari itu pencurian itu tidak akan terjadi apabila barang yang dicuri bukan barang yang bergerak. Maksud dari barang yang bergerak adalah barang yang bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya.

–          Barang tersebut tersimpan di tempat simpanannya,

Sebagian ulama berpendapat bahwa barang yang dicuri harus merupakan barang yang tersimpan di tempat penyimpanannya. Sedangkan Zhahiriyah dan sekelompok ahli hadits tetap memberlakukan hukuman had atas pencurian bukan dari tempat simpanannya akan tetapi sudah mencapai nishab pencurian.

–          Barang tersebut mencapai nishab pencurian,

Ketentuan ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah.

 

  1. Harta tersebut milik orang lain

Apabila barang yang diambil dari orang lain itu hak milik pencuri yang dititipkan kepadanya maka perbuatan tersebut tidak dianggap sebagi pencurian meskipun pengambilan dilakukan secara diam-diam. Lain lagi kalau seseorang mencuri barang yang awalnya miliknya namun kepemilikannya berubah menjadi milik orang lain, maka ia tetap dikenai hukuman had, karena pada saat dilakukannya pencurian barang tersebut sudah bukan miliknya lagi.

Atau apabila barang tersebut tidak ada pemiliknya seperti benda-benda yang mubah maka pengambilannya bukan dianggap sebagai pencurian meskipun pengambilannya secara diam-diam. Demikian pula halnya orang yang mencuri tidak dikenai hukuman had apabila terdapat syubhat (ketidakjelasan) dalam barang yang dicuri. Dalam hal ini pelaku hanya dikenai hukuman ta’zir. Semisal pencurian yang dilakukan oleh orang tua terhadap harta anaknya, maka si orang tua ini dianggap memiliki bagian dalam harta anaknya. Sehingga terdapat syubhat dalam hak milik. Kasus lain pada pencurian yang dikenai hukuman ta’zir ialah pencurian terhadap harta bersama, sebab pencuri dianggap mempunyai hak juga didalam harta bersama itu.

 

  1. Adanya niat yang melawan hukum

Unsur ini terpenuhi apabila pelaku pencurian mengambil suatu barang padahal ia tahu bahwa barang tersebut bukan miliknya, dan karenanya haram untuk diambil. Untuk terpenuhinya unsur ini disyaratkan pengambilan tersebut dilakukan dengan maksud untuk memiliki barang yang dicuri. Apabila tidak ada maksud untuk memiliki maka dengan sendirinya tidak ada maksud melawan hukum, oleh karenanya tidak dianggap sebagai pencuri. Misalnya pencurian yang dilakukan karena terpaksa (darurat) atau dipaksa orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 173 :

$yJ¯RÎ) tP§ym ãNà6ø‹n=tæ sptGøŠyJø9$# tP¤$!$#ur zNóss9ur ͍ƒÌ“Yςø9$# !$tBur ¨@Ïdé& ¾ÏmÎ/ ΎötóÏ9 «!$# ( Ç`yJsù §äÜôÊ$# uŽöxî 8ø$t/ Ÿwur 7Š$tã Ixsù zNøOÎ) Ïmø‹n=tã 4 ¨bÎ) ©!$# ֑qàÿxî íOŠÏm§‘ ÇÊÐÌÈ

Tetapi Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

2.3     Pembuktian Jarimah Sariqah

  1. Dengan saksi

Saksi yang diperlukan untuk membuktikan tindak pidana pencurian minimal dua orang laki-laki atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Apabila saksi kurang dari dua orang maka pencuri tidak dikenai hukuman.

  1. Dengan dengan pengakuan

Pengakuan merupakan salah satu alat bukti untuk tindak pidana pencurian. Menurut Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Zhahiriyah pengakuan cukup dinyatakan satu kali dan tidak perlu diulang-ulang. Akan tetapi menurut pendapat Imam Abu Yusuf, Imam Ahmad, dan Syiah Zaidiyah bahwa pengakuan harus dinyatakan sebanyak dua kali.

  1. Dengan sumpah

Dikalangan Syafi’iyah berkembang suatu pendapat bahwa pencurian bisa juga dibuktikan dengan sumpah yang dikembalikan. Apabila dalam suatu peristiwa pencurian tidak ada saksi atau tersangka tersebut tidak mau bersumpah mengakui perbuatannya, maka sumpah bisa dikembalikan kepada si penuntut (pemilik barang). Dan jika si penuntut mau disumpah maka si pencuri yang tidak mau disumpah tadi akan dikenai hukuman had.

Namun alat bukti yang satu ini tidak begitu kuat untuk dijadikan alat bukti. Sebab sumpah yang dikembalikan untuk tindak pidana pencurian merupakan tindakan yang riskan dan kurang tepat, karena hukuman sariqah ini sangat berat sehingga diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam pembuktiannya.

2.4     Hukuman dalam Jarimah Sariqah

Jarimah sariqah (pencurian) diancam dengan hukuman potong tangan berdasarkan firman Allah SWT.dalam surat Al-Maidah ayat 38 :

ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh ad-Daruqthni dari Abu Hurairah yang artinya :

Jika ia mencuri potonglah tangannya (yang kanan), jika ia mencuri lagi potonglah kakinya (yang kiri), kemudian apabila ia mencuri lagi potonglah kakinya (yang kanan)

Para fuqaha telah sepakat bahwa dalam pengertian kata ‘yad (tangan) termasuk juga rijl (kaki), apabila seseorang melakukan pencurian untuk pertama kali maka tangan kanannya yang dipotong, dan apabila ia mencuri lagi untuk kedua kalinya maka kaki kaki kirinya yang dipotong. Seorang pencuri ketika meniatkan perbuatannya maka sebenarnya ia menginginkan agar kekayaannya ditambah dengan kekayaan orang lain dan ia meremehkan usaha-usaha yang halal. Ia tidak mencukupkan dengan hasil usahanya sendiri, melainkan mengharapkan hasil usaha orang lain, agar dengan demikian ia bertambah daya nafkahnya tanpa susah-susah bekerja atau dengan demikian terjaminlah hari depannya. Sebagai imbangan dari faktor tersebut, syariat islam menetapkan hukuman potong tangan dan kaki karena dengan dipotongnya tangan atau kaki sebagai alat yang utama penyambung kerja, akan berkuranglah usaha dan kekayaannya. Dan setelah hukum islam diterapkan dengan konsisten maka ketenteraman dan keamanan dapat terwujud.

Meskipun beberapa orang menganggap bahwa hukuman potong tangan merupakan hukuman yang paling kejam dan tidak berperikemanusiaan, tetapi pendapat tersebut tidaklah benar. Sebab mereka hanya melihat dari sisi lahirnya saja, bukan memahami maksud dan tujuannya. Syariat islam memandang bahwa hukuman harus berisi ketegasan, bukan kelemahan dan kelunakan. Hukuman-hukuman yang bersifat ringan, lemah dan lunak seperti penjara akan dianggap enteng oleh para pelaku jarimah. Akibatnya meskipun seseorang telah dijatuhi hukuman dalam tindak pidana yang dilakukannya, maka ia tidak segan-segan ingin  mengulangi perbuatannya lagi dan lagi. Sebaliknya apabila hukuman itu kelihatannya keras dan tegas maka pelaku akan berpikir dua kali untuk mengulangi perbuatannya dan orang lain pun akan takut untuk melakukan perbuatan semacam itu. Dengan demikian fungsi pencegahan ini merupakan salah satu tujuan hukuman akan dapat tercapai.

 

2.5     Pengertian Jarimah Hirabah

Seperti yang telah dikemukakan pada pembahasan jarimah sariqah bahwa hirabah (perampokan) dapat digolongkan kepada tindak pidana pencurian, tetapi bukan hakiki melainkan dalam arti majazi. Secara hakiki pencurian adalah pengambilan harta milik orang lain secara diam-diam, sedangkan perampokan adalah pengambilan secara terang-terangan dan kekerasan.

Hirabah berasal dari kata Harb yang artinya perang. Menurut buku Fiqh Sunnah jilid 9 karya Sayyid Sabiq, Hirabah adalah keluarnya gerombolan bersenjata didaerah islam untuk mengadakan kekacauan, penumpahan darah, perampasan harta, mengoyak kehormatan, merusak tanaman, peternakan, citra agama, akhlak, ketertiban dan undang-undang baik gerombolan tersebut dari orang islam sendiri maupun kafir Dzimmi atau kafir Harbi.

Menurut Hanafiyah hirabah adalah keluar untuk mengambil harta dengan jalan kekerasan yang realisasinya menakut-nakuti orang yang lewat di jalan, atau mengambil harta, atau membunuh orang. Sedangkan menurut Prof. Drs. H. A. Djazuli dalam bukunya yang berjudul Fiqh Jinayah (Upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam), hirabah adalah suatu tindak kejahatan yang dilakukan secara terang-terangan dan disertai dengan kekerasan. Jadi, Hirabah itu adalah suatu tindak kejahatan ataupun pengerusakan dengan menggunakan senjata/alat yang dilakukan oleh manusia secara terang-terangan dimana saja baik dilakukan oleh satu orang ataupun berkelompok tanpa mempertimbangkan dan memikirkan siapa korbannya disertai dengan tindak kekerasan.

 

2.6     Unsur-unsur dan Bentuk Jarimah Hirabah

Dilihat dari pengertian jarimah hirabah diatas, dapat diketahui bahwa unsur jarimah hirabah adalah keluar untuk mengambil harta, baik kenyataannya si pelaku perampokan mengambil harta ataupun tidak mengambil harta (dengan kata lain hanya menakut-nakuti saja).

Jadi, didalam jarimah hirabah ini terdapat beberapa kemungkinan yaitu:

–          Seseorang keluar untuk mengambil harta secara terang-terangan namun ia hanya mengadakan intimidasi, dan tidak jadi mengambil harta serta tidak membunuh,

–          Seseorang keluar untuk mengambil harta secara terang-terangan dan kemudian mengambil harta tanpa membunuh,

–          Seseorang keluar hendak merampok dan membunuh, tetapi ia hanya mengambil harta korban dan tidak jadi membunuh,

–          Seseorang keluar hendak merampok dan membunuh, kemudian pelaku mengambil harta dan membunuh pemiliknya.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa perampokan itu merupakan suatu dosa besar, dan dasar hukum Hirabah adalah Q.S.Al-Maidah ayat 33:

$yJ¯RÎ) (#ätÂt“y_ tûïÏ%©!$# tbqç/͑$ptä† ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur tböqyèó¡tƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# #·Š$|¡sù br& (#þqè=­Gs)ム÷rr& (#þqç6¯=|Áム÷rr& yì©Üs)è? óOÎgƒÏ‰÷ƒr& Nßgè=ã_ö‘r&ur ô`ÏiB A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYムšÆÏB ÇÚö‘F{$# 4 šÏ9ºsŒ óOßgs9 ӓ÷“Åz ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ( óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã íOŠÏàtã ÇÌÌÈ

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,

Selain dari itu Rasulullah SAW juga melaknat bahwa pelaku Hirabah tidak pantas mengaku sebagai seorang Islam. Sabda Rasulullah SAW:

سن حمل علينا السلا ح فليس منا

Barang siapa membawa senjata untuk mengacau kita, maka bukanlah mereka termasuk umatku!” (H.R.Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

2.7        Syarat-Syarat yang dapat dijatuhi Hukuman Jarimah Hirabah

Untuk menjatuhi hukuman kepada pelaku Hirabah terdapat beberapa syarat, yaitu:

  1. Pelaku Hirabah Adalah Orang Mukallaf

Mukallaf adalah syarat untuk dapat ditegakkan suatu had padanya. Kemudian mukallaf adalah orang yang berakal dan dewasa. Anak kecil dan orang gila tidak tidak bisa dianggap sebagai pelaku Hirabah yang harus di had, meskipun ia terlibat dalam sindikat hirabah. Karena anak kecil dan orang gila tidak bisa dibebani atau dihukum menurut syara.

  1. Pelaku Hirabah Membawa Senjata

Untuk dapat menjatuhkan had Hirabah disyaratkan pula bahwa dalam melancarkan Hirabah pelakunya terbukti membawa senjata, karena senjata itulah yang merupakan kekuatan yang diandalkan olehnya dalam melancarkan Hirabah. Bila pelaku tidak menggunakan atau membawa senjata maka tindakannya tidak bisa dikatakan Hirabah. Abu Hanifah mengatakan bahwasannya tindakan yang hanya bersenjatakan batu dan tongkat itu tidak di hukumi sebagai tindakan hirabah.

  1. Lokasi Hirabah Biasanya Jauh Dari Keramaian

Sebagian ulama mengatakan bahwa lokasi Hirabah harus ditempat yang jauh dari keramaian (daerah padang pasir), sebab apabila terjadi tindak kejahatan di tempat keramaian maka korban bisa meminta pertolongan sehingga kekuatan pelaku kejahatan dapat dipatahkan. Tetapi sebagian ulama juga mengatakan bahwa tindak kejahatan di tempat padang dan di tempat keramaian sama saja bernama Hirabah. Karena ayat mengenai Hirabah (QS. al-Maidah :33) secara umum menyangkut segala Hirabah baik di tempat yang jauh dari keramaian (daerah padang) ataupun di tempat keramaian.

  1. Tindakan Hirabah secara terang-terangan

Tindakan Hirabah harus dilakukan secara terang-terangan sesungguhnya tidak dapat dikatakan Hirabah apabila dilakukan secara sembunyi-sembunyi adapun suatu tindak kejahatan secara sembunyi-sembunyi itu dinamakan dengan mencuri. Bila pelaku merebut harta kemudian melarikan diri maka itu disebut dengan penjambret atau perampas.

 

2.8        Macam-macam Pembuktian pada Jarimah Hirabah

  1. Dengan saksi

Saksi yang diperlukan untuk membuktikan tindak pidana perampokan sama halnya dengan jumlah saksi pada jarimah sariqah, yaitu minimal dua orang laki-laki atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Apabila saksi kurang dari dua orang maka pencuri tidak dikenai hukuman. Saksi bisa diambil dari para korban atau orang-orang yang terlibat langsung dalam kejadian perampokan.

  1. Dengan dengan pengakuan

Pengakuan seorang perampok merupakan salah satu alat bukti untuk tindak pidana perampokan. Menurut Jumhur Ulama pengakuan cukup dinyatakan satu kali dan tidak perlu diulang-ulang. Akan tetapi menurut pendapat Imam Abu Yusuf dan Hanabilah bahwa pengakuan harus dinyatakan sebanyak dua kali.

 

2.9        Hukuman dalam Jarimah Hirabah

Sanksi perampokan yang ditentukan dalam Al-Qur’an ada empat macam yaitu:

1.)    Hukuman Mati

Hukuman mati dijatuhkan kepada perampok apabila mereka melakukan pembunuhan tanpa merampok. Hukuman ini merupakan hukum had dan bukan qishash. Oleh karena itu hukuman tersebut tidak boleh dimaafkan. Naluri keinginan untuk hidup sendiri merupakan pendorong bagi pelaku untuk melakukan jarimahnya. Kalau saja ia menyadari bahwa ketika ia membunuh orang lain sebenarnya membunuh dirinya sendiri pula, maka pada umumnya ia tidak akan meneruskan perbuatannya. Dengan demikian faktor kejiwaan dilawan dengan faktor kejiwaan pula, agar ia mau menghindari jarimah.

2.)    Hukuman Mati Disalib

Hukuman ini dijatuhkan apabila perampok melakukan pembunuhan dan perampokan (merampas harta benda). Jadi hukuman tersebut dijatuhkan atas pembunuhan dan pencurian harta bersama-sama dan pembunuhan tersebut merupakan jalan untuk memudahkan pencurian harta. Hukuman tersebut juga merupakan hukuman had yang tidak bisa dimaafkan. Yang pada dasarnya tujuan penjatuhan hukuman ini tidak berbeda dengan dasar penjatuhan hukuman mati. Akan tetapi karena harta benda disini menjadi pendorong bagi perbuatan jarimahnya maka hukuman harus diperberat yaitu ditambah dengan penyaliban, sehingga apabila ia meniatkan jarimah-jarimah tersebut dengan mengingat hukumannya yang sangat berat maka ia akan mengurungkan niatnya.

3.)    Hukuman Potong Tangan dan Kaki

Hukuman ini dijatuhkan apabila perampok hanya mengambil harta tanpa melakukan pembunuhan. Dalam hal ini anggota badan yang dipotong adalah tangan kanan dan kaki kiri. Pada dasarnya tujuan penjatuhan hukuman itu sama dengan tujuan penjatuhan hukuman pencurian. Akan tetapi karena biasanya jarimah perampokan dikerjakan di jalan-jalan umum yang jauh dari keramaian maka perampok pada umumnya yakin akan keberhasilan perbuatannya dan keamanan dirinya. Kondisi yang seperti itulah yang menjadi penguat faktor kejiwaan yang menimbulkan perbuatan jarimah dan yang mengalahkan faktor kejiwaan yang mejauhkannya. Oleh karena itu hukuman harus diperberat agar kedua faktor tersebut dapat seimbang.

Hukuman untuk tindak pidana perampokan ini sama dengan hukuman pencurian dua kali. Pelipatan hukuman disini adalah adil, karena bahaya perampokan lebih besar daripada bahaya pencurian biasa dan kesempatan untuk meloloskan diri lebih banyak daripada kesempatan dalam pencurian biasa.

4.)    Hukuman Pengasingan

Hukuman pengasingan dikenai apabila si perampok hanya menakut-nakuti orang-orang yang lewat di jalan, tetapi tidak mengambil harta benda dan tidak pula membunuh. Alasan penjatuhan hukuman ini adalah bahwa perbuatan yang dilakukan oleh para perampok tersebut dimaksudkan untuk mencari popularitas nama dan diri mereka. Itulah sebabnya mereka itu diasingkan sebagai salah satu cara untuk mengurangi atau bahkan menghapuskan popularitas mereka. Di samping itu mungkin saja perbuatan tersebut dimaksudkan untuk mengganggu keamanan di jalan-jalan umum di suatu negeri dan untuk mengimbanginya, ia dihukumi dengan jalan meniadakan keamanan dirinya dari semua bagian negeri tersebut. Baik alasan itu tepat atau tidak, namun yang jelas dalam hal ini faktor psikologis ditandai dengan faktor psikologis pula. Adapun cara dan lamanya pengasingan menurut para fuqaha sama dengan hukuman pengasingan yang berlaku untuk jarimah zina.

 

BAB. III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Jarimah sariqah adalah pengambilan harta yang dilakukan oleh seorang mukalaf terhadap barang milik orang lain secara diam-diam, apabila barang tersebut mencapai nishab (yakni lebih dari seperempat dinar). Unsur-unsur dari jarimah sariqah adalah pengambilan secara diam-diam, barang yang diambil itu berupa harta, harta tersebut milik orang lain, dan adanya niat yang melawan hukum. Sedangkan macam-macam pembuktian pada jarimah sariqah adalah dengan sumpah, dengan dengan pengakuan dan dengan saksi. Serta hukuman yang pantas dengan jarimah sariqah (pencurian) ini adalah hukum potong tangan, sebab sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 38.

Sedangkan jarimah hirabah adalah suatu tindak kejahatan yang dilakukan secara terang-terangan dan disertai dengan kekerasan. Tindakan kejahatan jarimah hirabah ini ada empat macam, berikut macam-macam jarimah hirabah serta hukuman yang dijatuhi yaitu :

  1. pembunuhan tanpa merampok à hukuman mati
  2. merampok dan membunuh à hukuman mati disalib
  3. merampok tanpa membunuh à hukuman potong tangan dan kaki
  4. hendak merampok tetapi hanya menakut-nakuti saja à hukuman pengasingan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Drs. H. Ahmad Wardi Muslich. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta : Sinar Grafika

Drs. H. Ahmad Wardi Muslich. 2004. Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam Fiqih Jinayah. Jakarta : Sinar Grafika

Muhamad Nurul Irfan. 2009. Tindak Pidana Korupsi di Indonesia dalam Prespektif Fikih Jinayah. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI

Djazuli, A. 1997. Fiqih Jinayah. Jakarta : Rajawali Pers

Muhammad Uwaidah, Syaikh Kamil. 1998. Fiqih Wanita. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar

Abdur Rahman. 1404 H. Tindak Pidana dalam Syari’at Islam, Hudud dan Kewarisan. Jakarta : Radja Grafindo

Sayyid Sabiq. 2009. Fiqih Sunnah 3. Jakarta : Pena Pundi Aksara

Topo Santoso. 2003. Membumikan Hukum Pidana Islam. Jakarta : Gema Insani Press

Http://emil-jawwadassyaghaf.blogspot.com/2010/05/jinayah-perampokan.html

http://www.asiamaya.com/konsultasi_hukum/pidana/perkara_pidana.htm

http://hukumislam-uii.blogspot.com/2010/01/analisis-kasus-perampokan-toko-emas-di_17.html

http://arsihzf111sultan.blogspot.com/2011/05/hirabah-dalam-tinjauan-fiqh-jinayah.html

http://santriuniversitas.blogspot.com/2010/11/sariqah.html

ini soal+jawaban UAS Hukum Pidana Islam (takehome)

0

Nama                  : Rusyda Maulidia

NIM                     : C02210073

Kosma                : Muamalah C

TUGAS UAS HUKUM PIDANA ISLAM

  1. Bagaimana pendapat saudara jika dikatakan bahwa hukuman jarimah di dunia dapat menghapus hukuman di akhirat? (kemukakan alasan-alasan setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan tersebut)

Menurut pendapat saya pelaksanaan jarimah di dunia bisa menghapus siksaan/hukuman di akhirat. Namun ada beberapa persyaratan dan dalam konteks jarimah tertentu. Persyaratannya yakni pelaku jarimah tersebut benar-benar bertaubat dan kesalahannya dimaafkan oleh pihak korban, serta jarimah itu bukan termasuk dari jarimah hudud melainkan jarimah qishash dan/ataupun diyat. Dan dilihat dari firman Allah dalam QS. Al maidah ayat 33 dan QS. An-Nur ayat 2 menyinggung mengenai hal tersebut.

 

  1. Terdapat perbedaan pendapat ulama’ mengenai gabungan hukuman dari beberapa jarimah yang dilakukan seseorang. Kemukakan pendapat-pendapat tersebut kemudian jelaskan analisa saudara terhadap pendapat-pendapat tersebut!

Gabungan jarimah mengenal beberapa teori gabungan jarimah, yang mana terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Ada dua teori, yaitu teori saling melengkapi (At-Tadakhul) dan teori penyerapan (Al-Jabbu).

  1. Teori saling melengkapi (At-Tadakhul)

Menurut teori ini, ketika terjadi gabungan jarimah, maka hukuman-hukumannya saling melengkapi, sehingga oleh karenanya itu semua perbuatan tersebut dijatuhi satu hukuman, seperti kalau ia memperkuat perbuatan. Teori ini didasarkan atas dua pertimbangan, yaitu:

pertama, meskipun perbuatan jarimah berganda, sedang semuanya adalah satu macam, seperti pencurian yang berulang kali atau fitnahan yang berulang kali, maka sudah sepantasnya kalau hanya dikenakan satu macam hukuman, selama belum ada keputusan hakim. Beberapa perbuatan dianggap satu macam selama objeknya adalah satu, meskipun berbeda-beda unsurnya serta hukumannya, seperti pencurian biasa dan gangguam keamanan (Hirabah). Alasan penjatuhan satu hukuman saja adalah bahwa pada dasarnya suatu hukuman dijatuhkan untuk maksud memberikan pengajaran (ta’dib) dan pencegahan terhadap orang lain (zajru), dan kedua tujuan ini dapat dicapai dengan satu hukuman selama cukup membawa hasil. Namun, kalau diperkirakan pembuat akan kembali melakukan perbuatan-perbuatannya, maka kemungkinan ini semata-mata tidak cukup, selama belum jadi kenyataan bahwa hukuman tersebut tidak cukup menahannya. Baru setelah mengulangi perbuatannya sesudah mendapat hukuman, maka ia dijatuhi hukuman lagi, karena hukuman yang pertama ternyata tidak berpengaruh.

kedua, meskipun perbuatan-perbuatan yang dilakukan berganda dan berbeda-beda macamnya, namun hukuman-hukumannya bisa saling melengkapinya dan cukup untuk satu hukuman yang dijatuhkan untuk melindungi kepentingan yang sama. Seseorang misalnya makan bangkai, darah dan daging babi, maka atas ketiga perbuatan ini dijatuhi satu hukuman, karena hukuman-hukuman tersebut dijatuhkan untuk mencapai satu tujuan, yaitu melindungi kesehatan perseorangan dan masyarakat.

  1. Teori penyerapan (Al-Jabbu)

Yaitu menjatuhkan suatu hukuman, dimana hukuman-hukuman yang lain tidak dapat dijatuhkan. Hukuman tersebut dalam hal ini tidak lain adalah hukuman mati, dimana pelaksanaannya dengan sendirinya menyerap hukuman-hukuman lain. Teori ini dikemukakan oleh beberapa ulama diantaranya Imam Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad.

Menurut Imam Malik, apabila hukuman had berkumpul dengan hukuman mati karena Tuhan, seperti hukuman mati karena jarimah murtad berkumpul dengan hukuman mati karena qisash bagi seseorang lain, maka hukuman had tersebut tidak dapat dijalankan karena hukuman mati tersebut menyerapnya, kecuali hukuman mati karena jarimah murtad berkumpul dengan hukuman memfitnah (qadzaf), maka hukuman dari jarimah qadzaf tetap dilaksanakan terlebih dahulu dengan cara di-jilid delapan puluh kali, kemudian dihukum mati.

Menurut Imam Ahmad, apabila terjadi dua jarimah hudud, seperti mencuri dan zina bagi orang-orang muhshan, atau minum dan mengganggu keamanan (hirabah) dengan membunuh, maka hanya hukuman mati saja yang dijalankan, sedang hukuman-hukuman lain gugur. Kalau hukuman hudud berkumpul dengan hak-hak adami (manusiawi), dimana salah satunya diancam hukuman mati, maka hak-hak adami tersebut harus dilaksanakan terlebih dahulu, dan hak-hak Allah diserap oleh hukuman hukuman mati.

Bagi Imam Abu Hanifah, pada dasarnya apabila terdapat gabungan hak manusia dengan hak-hak Allah, maka hak manusialah yang harus didahulukan, karena ia pada umumnya ingin lekas mendapatkan haknya. Kalau sesudah pelaksanaan hak tersebut hak Allah tidak bisa dijalankan lagi, maka hak tersebut hapus dengan sendirinya.

Pendapat Imam Syafi’i

Bagi Imam Syafi’i tidak ada teori penyerapan (al-jabbu), melainkan semua hukuman harus dijatuhkan selama tidak saling melengkapi (tadakhul). Caranya ialah dengan mendahulukan hukuman bagi hak-hak adami yang bukan hukuman mati, kemudian hukuman bagi hak Allah yang bukan hukuman mati kemudian lagi hukuman mati.

Dilihat dari beberapa pandangan para Imam terkemuka diatas menurut saya adalah sah-sah saja. Sebab ketika terdapat gabungan hukuman dari beberapa jarimah dimana jika salah satu hukuman merupakan hak Allah (jarimah hudud) maka hukuman had yang lain akan terserap atas hukuman yang pertama. Lain lagi jika salah satu dari gabungan hukumannya merupakan hak-hak adami, maka hak tersebut harus dipenuhi terlebih dahulu, baru kemudian hukuman mati.

 

  1. Menurut saudara, apakah alat rekaman, semisal cctv dapat menggantikan pembuktian yang berbentuk syahadah? Jelaskan lengkap dengan alasannya!

Alat rekaman seperti cctv, menurut saya tidak dapat dijadikan pembuktian dalam bentuk syahadah. Sebab pengertian dari syahadah (persaksian) sendiri adalah

وهى اخبار صادق لإثبا ت حق بلفظ الشها دة فى مجلس القضاء

pemberitahuan melalui pernyataan yang benar untuk membuktikan suatu kebenaran dengan lafadz syahadat di depan pengadilan.[1]

Kemudian dasar hukum suatu persaksian ada pada QS.Al-Baqarah ayat 282 :

….. (#r߉Îhô±tFó™$#ur Èûøïy‰‹Íky­ `ÏB öNà6Ï9%y`Íh‘ ( bÎ*sù öN©9 $tRqä3tƒ Èû÷ün=ã_u‘ ×@ã_tsù Èb$s?r&zöD$#ur `£JÏB tböq|Êös? z`ÏB Ïä!#y‰pk’¶9$# br& ¨@ÅÒs? $yJßg1y‰÷nÎ) tÅe2x‹çFsù $yJßg1y‰÷nÎ) 3“t÷zW{$# 4 ….. ÇËÑËÈ

….Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya……

Sedangkan saksi yang didatangkan dalam syahadah harus memenuhi syarat berikut :

  1. Dewasa;
  2. Beragama islam;
  3. Berakal sehat;
  4. Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum, artinya cakap melakukan perbuatan hukum.

Dan yang menjadikan cctv tidak bisa dijadikan sebagai alat pembuktian berbentuk syahadah adalah secara logika persaksian cctv tidak bisa memberikan keterangan secara langsung dan secara luas. Sebab cctv merupakan rekaman yang mana sebelumnya sudah disiapkan oleh saksi untuk bersyahadah. Lebih jelasnya lagi semisal dalam suatu persidangan, mustahil sekali saksi didatangkan berupa rekaman cctv, belum lagi pertanyaan yang nanti diajukan oleh hakim kepada saksi tentang kejadian suatu perkara. Jadi menurut saya rekaman seperti cctv tidak bisa dijadikan sebagai alat bukti berbentuk syahadah.

 

  1. Dalam jarimah hudud, kepastian jenis hukuman telah diatur oleh syariah. Menurut saudara apakah terbuka kemungkinan untuk mengganti hukuman dalam jarimah – jarimah hudud tersebut? Jelaskan lengkap dengan alasan-alasannya

Tidak, karena jarimah hudud (bentuk jamak dari hadd = batasan) merupakan jarimah yang hukumannya sudah ditentukan oleh syara’ dan menjadi hak Allah. Artinya hukuman tersebut tidak bisa dihapuskan oleh perseorangan (orang yang menjadi korban atau keluarganya). Hukumannya tertentu dan terbatas, dalam arti bahwa hukumannya telah ditentukan oleh syara’ dan tidak ada batas minimal dan maksimal. Jarimah hudud adalah ketentuan perbuatan pidana yang telah ditetapkan Allah tentang macam, batasannya, dan sanksi hukuman terhadap pelanggarnya. Yang termasuk dalam jarimah hudud antara lain :

–          Jarimah zina (QS.24:2);

–          Jarimah qadzaf (menuduh orang lain berzina (QS.24:4)

–          Jarimah syurb al-khamr;

–          Jarimah pencurian (QS.5:38);

–          Jarimah hirabah

–          Jarimah riddah

–          Jarimah pemberontakan.

Terhadap ketentuan ini umat Islam hanya melaksanakannya saja sesuai yang dijelaskan nas.


[1] Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Sinar Grafika : Jakarta, 2005) h.231

resume buku tentang “valuta asing”

0

Judul Buku                                 : Valuta Asing – Jurus Ampuh Dalam Memenuhi  Kebutuhan Dana Jangka Pendek Investor

Nama Pengarang                     : Wiene Sandyawati

Nama Penerbit                         : Graha Ilmu

Tahun Penerbitan                    : 2011

Kota Penerbitan                       : Yogyakarta

  1. PENDAHULUAN
    1. Fungsi Pasar Valuta Asing

Perdagangan valuta asing merupakan bagian dari seni yang senantiasa hidup dan kontroversial dalam transaksinya. Mulai dari memperhatikan posisi agar tidak merugi sampai menjadi perhatian para pelaku pasar baik dalam strategi perdagangan maupun menciptakan produk (instrumen). Pasar valuta asing mempunyai fungsi pokok yaitu membantu kelancaran lalu lintas pembayaran internasional. Suatu negara akan menciptakan kemudahan penukaran valuta asing dan para ahli keuangannya akan membuat sistem pemindahan dana antar negara secara aman.

  1. Unsur Spekulasi dari Pelaku Pasar

Dampak daripada kejadian perang dunia pertama dengan perang dunia kedua dalam pembahasan ini ialah sistem nilai tukar mengambang. Akibatnya muncul spekulasi mata uang yang mengacaukan nilai tukar dan merusak stabilitas. Selain mempunyai dampak negatif terhadap perdagangan internasional, penjualan mata uang yang lemah merangsang timbulnya keyakinan akan terjadi inflasi, kenaikan tingkat harga dan upah, sehingga pada akhirnya memacu terjadinya depresiasi lebih lanjut.

  1. Nilai Mendatang

Sebagai pelaku pasar valuta asing atau sebagai investor individual, sebaiknya harus menyadari nilai mendatang. Konsep ini dikenal sebagai time value of money. Satu dollar yang dimiliki seseorang pada hari ini harus lebih bernilai daripada satu dollar yang akan diterima tahun berikut. Sebab jika kita memiliki kita dapat menginvestasikannya pada suatu instrumen dan menghasilkan bunga.

Nilai mendatang (future value) adalah suatu jumlah dimana akan dicapai karena adanya pertumbuhan nilai uang selama satu periode, jika nilai dasarnya dimajemukkan dengan suku bunga tertentu.

  1. Redenominasi

Sekitar tahun 2010 lalu muncul pemberitaan mengenai kebijakan Gubernur Bank Indonesia tentang redenominasi mata uang Rupiah. Hal ini menimbulkan sejumlah reaksi dan pertanyaan di berbagai kalangan terutama para ekonom. Namun sebagai pelaku pasar uang tidak perlu khawatir karena nilai uang rupiah tetap akan sama, jadi tidak perlu menukarkan investasi atau simpanan anda ke mata uang asing yang kuat. Menurut Bank Indonesia, redenominasi hingga saat ini masih dalam bentuk wacana dan masih sebatas studi Bank Indonesia yang belum final sifatnya, sebab jika disetujui oleh DPR dan pemerintah maka dibutuhkan 10 tahun untuk penerapan redenominasi.

  1. PERDAGANGAN VALUTA ASING DI ERA MODERN

Nilai uang ditentukan oleh daya belinya yang dapat berubah dari waktu ke waktu. Daya beli tersebut mencakup kebutuhan baik individu perorangan maupun korporasi atau lembaga usaha yang terbentuk dalam kehidupan bersama dalam sistem regional dan internasional. Maka valuta asing sebetulnya sangat fleksibel menunjang aktifitas tukar menukar (barter). Bagi lembaga usaha terutama bank dan lembaga keuangan, valuta asing merupakan suatu komoditas, maka harus dikelola secara cermat supaya mendapatkan keuntungan sesuai dengan target waktu yang ditetapkan.

  1. Perkembangan Sistem Moneter Internasional

Sistem moneter internasional dimulai dari tahun 1820an, pada saat itu berlaku sistem keuangan negara yang dikaitkan dengan standar emas. Mengapa emas? karena emas merupakan logam mulia yang sudah dikenal oleh bangsa Romawi dan Yunani sejak 30 abad sebelum Masehi dan sekitar tahun 1880 sebagian negara-negara di dunia termasuk Amerika Serikat menggunakan emas sebagai standar satuan uang negara. Lalu sekitar tahun 1870-1914 ketika Inggris mengalami perang Napoleon juga sudah mempunyai standar mata uang dikaitkan dengan emas.

Tetapi ketika terjadi perang dunia I sekitar tahun 1914-1918 berdampak pada fluktuasi nilai tukar berbagai mata uang beberapa negara. Sesudah itu beberapa negara Eropa mulai bangkit perekonomiannya dan menjalankan perdagangan bebas, namun nilai tukar beberapa mata uang belum stabil walaupun pertumbuhan ekonomi meningkat. Perang itu menghabiskan dana negara, maka negara yang menang itu diperkirakan cadangan emasnya banyak. Dalam situasi perang cadangan emas sedikit demi sedikit dijual guna membiayai perang tetapi perekonomian negaranya tidak diabaikan, dengan demikian rakyat masih dapat makan secukupnya tidak sampai jatuh miskin. Pada saat itu terjadi depresi dunia. Sistem moneter internasional menjadi kacau.

Selang beberapa tahun ketika terjadi perang dunia II, atas prakarsa negara Amerika Serikat diadakan suatu konferensi moneter di Bretton Woods, New Hampshire, menghasilkan  yaitu suatu sistem nilai tukar yang tetap (Fixed Exchange Rate System) yang mempunyai persamaan dengan Gold Exchange Standard. Inti persetujuan Bretton Woods adalah nilai mata uang semua negara anggotanya harus dikaitkan dengan emas, tetapi tidak wajib menukarkan mata uangnya dengan emas. Juga disepakati bahwa semua negara anggota akan berusaha mempertahankan nilai mata uangnya, kira-kira 1% dari nilai par-nya. Ini dapat dilaksanakan dengan cara membeli atau menjual valuta asing sebesar yang diperlukan. Jika terjadi devaluasi tidak boleh dipakai sebagai kebijakan perdagangan untuk bersaing.

Gejolak moneter di Amerika Serikat mempengaruhi perekonomian dunia, sehingga menimbulkan konsekuensi logis sistem perekonomian pasar bebas dan ideologi neo-liberalisme. Percepatan sistem moneter meningkatkan ketidakpastian indeterminasi, turbulensi ekonomi yang rentan terhadap risiko krisis, kemacetan bahkan dapat menyebabkan kehancuran keuangan suatu negara. Pada saat itu terjadi krisis sistem moneter internasional, krisis utang luar negeri, krisis minyak dan komoditas primer lainnya, serta muncul negara-negara industri baru. Sesudah itu negara Uni Soviet terpecah dan masing-masing mengambil langkah sosial pasar bebas. Tetapi Amerika Serikat tetap berjaya, terbukti dengan Amerika Serikat yang masih mampu memberikan bantuan ke beberapa negara.

  1. Perkembangan Uang Indonesia Terhadap Valuta Asing

Pada saat proklamasi kemerdekaan di Indonesia (1945) beredar empat jenis mata uang :

  1. Uang logam dan kertas yang dikeluarkan oleh De Javasche Bank atau otoritas pemerintah Hindia Belanda.
  2. Uang transisi, dipersiapkan oleh De Japanshe Reegering ketika Jepang menguasai Indonesia,
  3. Uang Indonesia, yang diemisikan oleh pemerintah Jepang tahun 1943 satuannya mulai dari pecahan 100 roepiah.
  4. Oeang Republik Indonesia (ORI) yang dicetak dan ditandatangani oleh Menteri Keuangan Indonesia saat itu.

Selama tahun 1950-1959, perekonomian Indonesia liberal, fenomena moneter yang paling menonjol adalah uang digunting menjadi dua bagian; yang kiri tetap berlaku sebagai alat bayar yang sah dan yang kanan dapat ditukar ke bank dengan nilai seperseribunya. Tindakan moneter yang dilakukan pemerintah pada saat Orde Lama merupakan inflasi besar-besaran dan membuat rakyat resah dan tidak mempercayai pemerintah. Lalu pada zaman Orde Baru telah terjadi perubahan yang signifikan dari Indonesian Rupiah terhadap Valuta Asing, khususnya US$.

  1. Peran Valuta Asing Pada Perekonomian Dunia Dewasa ini

Valuta asing adalah mata uang negara lain yang dimiliki perorangan, instasi swasta atau pemerintah suatu negara. Pergerakan nilai valuta asing yang mengalami pergerakan cukup signifikan sehingga menarik bagi beberapa masyarakat atau kalangan tertentu untuk berkecimpung dalam pasar valuta asing. Keuntungan yang diperoleh pada permintaan dan penawaran pasar valuta cenderung besar meningkat terhadap keinginan berbagai pihak berusaha memperoleh gain dari pergerakan valuta asing.

Interdependensi perekonomian dunia menyebabkan setiap perubahan nilai tukar riil suatu negara akan mempengaruhi perubahan yang sebaliknya pada nilai tukar negara lain. Interpendensi itu sendiri ternyata ditentukan oleh pengaturan moneter dan nilai tukar yang dipakai banyak negara. Valuta asing – baru akan mempunyai arti apabila suatu valuta dapat ditukarkan terhadap valuta lainnya. Oleh karenanya terdapat dua macam sistem pertukaran Valuta Asing (konvertabilitas), yaitu pertukaran dengan suatu pembatasan dan pertukaran tanpa pembatasan. Pertukaran tanpa pembatasan artinya apabila baik penduduk maupun bukan penduduk suatu negara dapat menukarkan valuta negara yang bersangkutan ke dalam valuta asing dengan nominal tanpa batas. Dalam perekonomian modern, valuta asing dapat dianggap sebagai komoditi, yaitu sama denan komoditas lain seperti logam mulia (emas), properti dan komoditas lainnya yang dapat diperdagangkan ke seluruh mancanegara.

Ada tujuh mata uang dunia yang lazim diperdagangkan dalam valuta asing, yaitu Dollar Amerika (US$), Poundsterling Inggris (GBP), Euro Dollar (EUR), Swiss Franc (CHF), Japanese Yen (JPY), Australian Dollar (AUD) dan Canadian Dollar (CAD). Oleh karena setiap negara mempunyai mata uang karakteristik sendiri-sendiri, maka dengan adanya perdagangan uang antar negara timbullah permintaan dan penawaran akan mata uang dari negara-negara yang bersangkutan. Aktifitas perdagangan valuta asing berlangsung terus menerus dan pengaruh dari satu bursa, wilayah dan negara baik secara langsung maupun tidak langsung akan terbawa. Semuanya akan saling mempengaruhi aktifitas seperti bursa-bursa valuta asing, saham dan komiditas lain di seluruh dunia.

  1. Sistem Penetapan Nilai Tukar

Sejarah perdagangan uang dapat dikatakan setua usia uang itu sendiri, dan baru banyak mendapat perhatian yang serius oleh banyak negara pada dekade terakhir ini. Nilai tukar dapat ditetapkan dengan sistem sebagai berikut :

  1. 1.      Gold standard

Pada sistem ini nilai uang suatu negara ditentukan dengan harga emas murni yang merupakan standar di negara tersebut. Nilai uang yang stabil dan pertukaran emas ke dalam mata uang lain adalah ciri khusus dari sistem ini.

  1. 2.      Gold exchange standard

Mekanisme gold exchange standard mirip dengan gold standard, yaitu apabila suatu negara menderita defisit dalam neraca pembayaran maka negara tersebut wajib mengatasinya dengan cara menjual atau menyerahkan emasnya. Jadi apabila nilai uang suatu negara dirasakan tidak wajar maka debitur bank dapat memilih untuk dibayar dengan emas.

  1. 3.      Fixed exchange rate system

Dalam fixed exchange rate system, negara-negara anggota dibolehkan menetapkan sendiri nilai tukar mata uangnya terhadap US$. Dua tahun kemudian didirikan suatu lembaga moneter internasional yaitu International Monetary Fund (IMF) yang tugas utamanya adalah mengawasi dan memantau sistem moneter negara anggota. Dengan sistem ini nilai tukar valuta asing stabil.

  1. 4.      Floating exchange rate system

Pada konsep ini nilai tukar atau harga valuta asing dibiarkan bebas terbentuk atas kekuatan penawaran dan perimntaan pasar. Jika floating exchange rate system benar-benar diterapkan pada suatu negara, maka penawaran dan permintaan pasar berpengaruh. Dengan demikian negara yang menggunakan sistem ini akan ada pengawasan dari pemerintah. Dalam sistem ini selain nilai tukar valuta asing senantiasa berubah-ubah, juga tergantung pada faktor politik, ekonomi, ekspektasi dan spekulasi.

  1. 5.      Free Float

Dalam sistem nilai tukar Mengambang Bebas, tingkat nilai tukar ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran mata uang dimana perubahan harga, perbedaan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi negara saling mempengaruhi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem nilai tukar mengambang ini ditentukan oleh mekanisme pasar tanpa campur tangan pemerintah.

  1. Sistem nilai tukar lainnya

Jenis-jenis nilai tukar mata uang lainnya yang digunakan oleh beberapa negara di dunia, umumnya merupakan variasi dari Fixed exchange rate dan floating exchange rate, yaitu :

–          Pegged Rate, nilai tukar mata uang suatu negara dikaitkan dengan sekelompok mata uang asing.

–          Joint Floating Rate, nilai tukar negara-negara anggota ditentukan oleh Fixed exchange rate tetapi Floating terhadap mata uang di luar anggota.

–          Managed Floating, ditentukan terlebih dulu Fixed exchange rate terhadap USD dan dibiarkan Floating terhadap mata uang lain jadi mengambang terkendali.

–          Target-zone Agreement, ahli ekonomi dari beberapa negara industri berkehendak meminimalkan perubahan nilai tukar dan meningkatkan stabilitas ekonomi. Negara-negara industri menyesuaikan kebijakan ekonomi mereka untuk menentukan tingkat nilai tukar dengan margin tertentu di atas atau di bawah nilai mata uang gabungan.

Dengan perkembangan sistem moneter dunia dan kemajuan teknologi komunikasi, maka sistem nilai tukar valuta asing juga berkembang. Nilai tukar valuta asing adalah harga mata uang dalam unit komoditas, seperti emas atau platina, dan komoditas lainnya. Suatu negara menyatakan bahwa mata uangnya secara bebas dapat dipertukarkan dengan mata uang negara lain, mata uangnya disebut sebagai convertible currency.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar

Salah satu ciri era glonalisasi yang menonjol saat ini yaitu adanya arus uang dan modal dalam bentuk mata uang asing (foreign currency) dari berbagai pusat keuangan dari berbagai negara semakin besar volumenya. Aliran valuta asing yang besar dan cepat tersebut adalah karena tuntutan perdagangan, investasi dan spekulasi dari suatu negara yang surplus ke negara yang defisit, dan dapat terjadi karena berbagai faktor atau kondisi sehingga mempengaruhi perbedaan nilai tukar valuta asing dimasing-masing negara. Mata uang konvertibel yang ditawarkan pada bursa valuta asing menganut sistem nilai tukar mengambang murni (clean floating). Nilai tukar dari mata uang tersebut turun naik akan ditentukan oleh permintaan (demand) dan penawaran (supply) sesuai mekanisme pasar. Turun naiknya nilai tukar mata uang yang mengambang ini tergantung pada permintaan dan penawaran atas mata uang tersebut yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

–          Faktor Fundamental

  1. Faktor Politik, yaitu stabilitas politik sebagai pemeliharaan situasi negara, stabilitas ekonomi, kapasitas lembaga keuangan dan pasar untuk memobilisasi dana dari surplus spending unit secara efisien, menyediakan likuiditas serta mengalokasi investasi tanpa masalah dalam fiskal.
  2. Faktor Ekonomi, hal-hal yang berpengaruh antara lain yaitu suku bunga, inflasi, perkembangan ekonomi, Neraca Pembayaran (Balance of Payment /BOP), kebijakan moneter, kebijakan fiskal dan cadangan devisa.

–          Faktor Technical

Faktor teknik lebih bersifat scientific dan matematis dibandingkan dengan faktor fundamental. Analisa ini menggunakan grafik  yang disebut chart yang dibuat berdasarkan ilmu pengetahuan matematika.

–          Psychological / Market Sentiment

Permintaan atau penawaran para pelaku pasar berdasarkan perkiraannya mengenai perkembangan nilai tukar di masa mendatang dengan membeli disaat nilai tukar suatu mata uang sedang rendah dan kemudian menjualnya setelah mata uang tersebut naik disebut sebagai investasi atau spekulasi.

–          Faktor Potensi

Dipengaruhi oleh dua hal penting, yaitu potensi pasar dan kompetitor yang ada pada lingkungan usaha. Potensi yang ada didasarkan pada kebutuhan atau dengan kata lain supply and demand, dengan berbagai alasan seperti adanya transaksi internasional atau hanya sekedar spekulasi dari perorangan atau perusahaan dalam mencari keuntungan dari fluktuasi nilai tukar mata uang tertentu.

  1. Kovertibilitas Valuta

Valuta asing dalam konteks sebagai alat pembayaran transaksi ekonomi atau keuangan internasional mempunyai catatan nilai tukar resmi yang dikeluarkan oleh bank sentral. Valuta asing dilihat dari sudut pandang konverbilitas (kemudahan) untuk dipertukarkan dikategorikan menjadi dua, yaitu :

–          Hard Currency, valuta asing yang secara luas mudah diterima sebagai alat bukti pembayaran. Umumnya berasal dari negara-negara industri maju.

–          Soft Currency, valuta asing yang jarang digunakan sebagai alat pembayaran di luar negara pemiliknya, serta kesatuan hitung dan nilainya relatif tidak stabil. Umumnya berasal dari negara-negara yang sedang berkembang.

III. TRANSAKSI VALUTA ASING

  1. Tujuan Transaksi Valuta Asing

Pasar valuta asing (foreign exchange market / forex market) merupakan suatu jenis perdagangan atau transaksi yang memperdagangkan mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya yang melibatkan pasar-pasar uang utama di dunia selama 24 jam secara berkesinambungan. Pasar valas ini merupakan tempat riil atau abstrak yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana (borrower) dengan pihak yang memiliki dana (lender). Saat mereka bertemu, umumnya terjadi transaksi penempatan (placement) dimana diterbitkan media / instrumen “utang jangka pendek”. Jadi baik pasar uang rupiah maupun pasar valuta asing sebagai sarana pengendali moneter oleh penguasa moneter dalam melaksanakan operasi pasar terbuka. Kepentingan para peserta pasar dalam pasar valuta asing yaitu menyelesaikan semua tagihan atau kewajiban kepada pihak lain di negara lain (trading), selain itu untuk kegiatan hedging ataupun speculating. Berdasarkan kepentingan tersebut maka dapat dibedakan tujuan peserta pasar antara lain untuk komersial, bagi keperluan ekspor, impor, lalu lintas modal dan jasa, untuk pendanaan berupa pinjaman valuta asing, untuk investasi, membentuk portofolio, safety pada properti dan tujuan komersiil lainnya.

Jadi tujuan transaksi valuta asing antara lain melakukan penempatan dengan suku bunga seefisien mungkin, menutupi kekurangan likuiditas dengan biaya seefisien mungkin, memperoleh keuntungan dari transaksi borrowing terhadap placement, serta memelihara likuiditas.

  1. Peserta Pasar Valuta Asing

Transaksi jual beli valuta asing biasa dilakukan para peserta pasar valuta asing di money changer dimana nilai tukarnya lebih fleksibel, atau dengan cara informal dengan menggunakan telepon, fax, telex / Reuter Monitor Direct-Dealing System (RMDS). Transaksi jual beli dalam perdagangan valuta asing dapat juga terjadi antar bank dengan nasabah, antarbank dengan bank, baik dilakukan secara langsung maupun melalui pialang. Pembeli dan penjual valuta asing dapat juga bertemu melalui jaringan telekomunikasi. Ada beberapa tempat di dunia yang merupakan pusat perdagangan uang yang sangat aktif dimana pada jam-jam tertentu para pedagang saling bertemu untuk mencari informasi atau menutup transaksi. Tempat-tempat tersebut disebut bursa dunia seperti di London, Frankfurt, Chicago, Hongkong, Tokyo dan Singapore. Pasar valuta asing diatur oleh Code of Conduct yang tidak tertulis bagi pasar pelaku pasar.

Dalam pasar valuta asing atau dapat disebut sebagai Bursa Valuta Asing terdapat pihak yang membeli (buyer) suatu jenis valuta dan pihak yang menjual (seller) valuta lainnya. Mereka inilah yang kita sebut sebagai peserta pasar valuta asing. Peserta pasar valuta asing terdiri dari :

  1. Pemerintah

Pemerintah melakukan transaksi valuta asing untuk berbagai tujuan, antara lain membayar utang luar negeri, menerima pendapatan dari luar negeri yang harus ditukarkan lagi ke dalam mata uang logam.

  1. Bank sentral

Bank sentral adalah lembaga independen yang mempunyai tugas menstabilkan nilai tukar mata uangnya yang biasanya disebut dengan kegiatan intervensi.

  1. International Banks

–          Trading Bank

Bank internasional yang besar, umumnya aktif di pasar uang antarbank domestik juga di pasar valuta asing. Transaksi-transaksi yang dilakukan dapat untuk kebutuhan nasabahnya ataupun untuk kebutuhan posisinya sendiri (trade for its own account).

–          Commercial Bank

Bank umum melakukan transaksi jual beli valuta asing untuk berbagai keperluan, antara lain melayani nasabah yang ingin menukarkan uang kedalam bentuk mata uang lain. Banyak bank-bank umum yang aktif di pasar valuta asing semata-mata hanya mengcover posisinya untuk kebutuhan transaksi komersiil.

  1. Investment / Merchant Banks

Istilah “Investment Banks” diperkenalkan oleh kalangan bangsawan Inggris karena melayani nasabahnya untuk investasi, baik efek maupun berperan aktif di transaksi pasar uang dan valuta asing.

  1. Korporasi atau Wholesales

Perusahaan multinasional dan perusahaan dagang (konglomerat) internasional termasuk sebagai peserta valuta asing.

  1. Lembaga keuangan

Perusahaan/lembaga diskonto, spekulan, arbitrage, broker, perusahaan komoditi dan perusahaan-perusahaan asuransi juga merupakan peserta valuta asing.

  1. Nasabah lainnya

Perusahaan impor-ekspor, yayasan, perorangan, individu yang memiliki portofolio internasional, wisatawan asing dan perusahaan kecil lainnya yang aktif membatasi resiko dalam pasar valuta asing.

  1. Jenis-jenis Transaksi Valuta Asing
    1. Same Day Settlement, merupakan transaksi antara bank atau money charger dengan nasabahnya, yaitu penyerahan valuta pada hari yang sama.
    2. Currency Spot Market, merupakan transaksi pertukaran atau jual beli antara dua valuta asing yang berbeda.
    3. Transaksi Forward, merupakan transaksi jual beli dengan nilai tukar Forward Rate, artinya nilai tukar ditetapkan sekarang tetapi berlaku untuk waktu mendatang yang telah disepakati.
    4. Transaksi SWAP, merupakan transaksi barter, jual beli antar valuta asing secara bersamaan antar lembaga perbankan, dimana penyelesaiannya dilakukan pada tanggal yang berbeda. Jenis transaksi swap yang umum adalah “spot terhadap forward”.
  1. Penawaran Untuk Transaksi Valuta Asing

Penawaran berkaitan erat dengan nilai tukar valuta asing pada tingkat harga tertentu. Hal ini juga menyangkut etika bisnis dalam pasar valuta asing, yang mempunyai prinsip-prinsip yaitu sebagai nilai tukar jual dan beli selalu dilihat dari pihak lembaga perbankan dan nilai tukar untuk transaksi jual selalu lebih tinggi dari nilai tukar untuk transaksi jual.

  1. Pasar Valuta Asing
  2. Pasar Spot

Pasar ini borrower dengan lender bertemu untuk saling menukarkan instrumen keuangan angka pendek, yaitu dalam bentuk wesel bank berupa cheque yang akan ditarik pada rekening dengan denominasi yang berbeda.

  1. Pasar Forward

Sama halnya dengan pasar spot, maka pasar forward tidak perlu terjadi pada suatu lembaga keuangan. Jadi dapat dilakuan secara informal sepanjang tercapai kesepakatan antara borrower dengan lender yang akan bertransaksi.

  1. Pasar Future

Ditinjau dari macam atau jenis objek yang diperdagangkan, pada pasar future yang diperdagangkan adalah valuta asing dan komoditi. Transaksi future berguna untuk membatasi resiko dan bertujuan spekulatif.

  1. Pasar Opsi

Opsi diperjualbelikan antarbank dan pada bursa valuta asing internasional, dengan spesifikasi yang jelas.

  1. Pasar Eurocurrency

Pelaku pasar utama pada pasar eurocurrency adalah bank-bank internasional yang menerima funding deposito dan lending dalam Euro Dollar dimana spread-nya tidak terlalu besar karena Eurobank tidak terlalu komersiil. Suku bunga pinjaman dalam Euro Dollar dikaitkan dengan London Interbank Offer Rate (LIBOR) hanya ditambah 1-1,5% saja.

  1. Asian Currency Unit (ACU)

ACU sebagai unit kerja yang beroperasi ada pada suatu lembaga keuangan didalam atau diluar negeri.

  1. Arbritage

Arbritasi atau juga dikenal dengan istilah asing “arbritage” yang artinya tindakan membeli atau menjual komoditas (termasuk valuta asing) dan pada saat yang bersamaan menjual dan membeli di tempat lain dengan tingkat harga yang menguntungkan. Jadi bisa dikatakan bahwa arbritage ialah suatu tindakan mengambil keuntungan dengan memanfaatkan perbedaan antara satu aset acuan dan aset acuan lainnya.

  1. Hedging

Hedging ialah memberikan nilai lindung terhadap valuta asing. Maksudnya ialah ketika transaksi kas valas perusahaan dinilai relatif besar maka timbullah resiko untuk memanajemen fluktuasi nilai tukar.

IV. PIHAK YANG MEMBANTU KELANCARAN PERDAGANGAN VALUTA ASING

  1. Peran Unit Kerja Valuta Asing

Tujuan suatu bank membentuk unit kerja Dealing Room, antara lain :

–          Sebagai usaha untuk memperoleh pendapatan dari kegiatan transaksi valuta asing

–          Sebagai sarana menuju bisnis perbankan internasional

–          Sebagai sarana untuk mempererat dan memperluas hubungan dengan bank koresponden

  1. Code of Conduct Para Dealer Valuta Asing

Para dealer menjalankan aktifitas perdagangan valuta asing diatur oleh kode etik (Code of Conduct). Saat bertransaksi mereka menggunakan jargon atau kata-kata rahasia yang sudah lazim digunakan dengan sesama dealer counter-partynya, seperti : mio, agree, mine, yours, done atau my word is my bond dan penegasan secara tertulis lain.

Seorang dealer secara profesional harus mempunyai kualifikasi dan etika : cerdas, berbakat dan mampu, beretika dan bertindak profesional, reputasi baik, relasi yang baik dengan semua pihak, mengetahui batasan-batasan bagi dealer serta menghindari resiko-resiko yang tidak perlu.

  1. Penentuan Limit Transaksi Valuta Asing

Untuk mengetahui kemampuan dealer, manajemen bank perlu menetapkan kebijakan suatu batasan berupa limit dan target profit atau loss. Meningkatnya pengertian yang universal atas transaksi valuta asing telah mendorong terciptanya formasi limit uang universal pula dalam pengendalian dan pengawasan aktifitas dealing room.

  1. Hubungan Antara Risiko dengan Limit Transaksi Valuta Asing

Limit transaksi setiap dealer pada dealing room ditetapkan untuk mengendalikan risiko. Risiko transaksi valuta asing dapat diklasifikasikan menjadi :

  1. Risiko Pasar

Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar valuta asing. Limit yang ditetapkan bagi seorang dealer, yaitu open position limit, forward limit (time gap position), time forward limit dan structural position limit.

Open Position Limit suatu mata uang terjadi akibat pembelian atau penjualan terhadap mata uang lain. Selama transaksi tersebut belum di reverse (open position) potensi laba/rugi akan tergantung pada fluktuasi nilai tukar di pasar valuta asing.

Forward limit (time gap position), terjadi sebagai akibat pembelian atau penjualan suatu mata uang (currency) terhadap mata uang lain untuk jangka waktu tertentu dan dioffset dengan penjualan/pembelian kembali mata uang yang sama dengan jatuh tempo yang berbeda.

Structural position limit, limit ini berasal dari kebijakan investasi, seperti efek-efek off-shore atau penyertaan yang menimbulkan open position.

  1. Risiko Volume Transaksi, Berkaitan dengan total aktifitas pada pasar currency tertentu.
  2. Risiko Kredit Valuta Asing, risiko yang dikaitkan dengan kemampuan counterparty dalam memenuhi kewajibannya. Ketidakmampuan counterparty dapat dibedakan menjadi : Exchange Credit Risk dan Settelment Credit Risk. Exchange Credit Risk adalah risiko yang timbul dari besar perbedaan antara nilai tukar yang berlaku di pasar dengan nilai tukar yang telah disetujui pihak lawan. Sedangkan Settelment Credit Risk adalah resiko yang tidak menerima pembayaran atas mata uang yang dibeli, sementara mata uang yang dijual telah diserahkan kepada pihak lawan.
  3. Risiko Teknikal/Risiko Profesionalisme, risiko yang timbul karena peralatan teknologi kurang menunjang dan juga kurangnya pengetahuan individual dealer. Risiko ini antara lain: tingginya aktifitas trading memerlukan perangkat keras dan perangkat lunak serta kurangnya pengetahuan dealer.
  1. Posisi Valuta Asing

Kondisi Posisi Valuta Asing

Asset > Liabilities artinya Long Position (Overbought)

Asset < Liabilities artinya Short Position (Oversold)

Asset = Liabilities artinya Square Position

Untuk mengetahui posisi dari setiap mata uang suatu saat oleh dealer menggunakan tabel yang mencatat jumlah pembelian dan penjualan masing-masing mata uang dengan nilai tukarnya. Tujuan posisi adalah untuk mencermati perilaku nilai tukar dan tingginya risiko yang dihadapi dalam transaksi valuta asing.

  1. PRODUK-PRODUK PASAR VALUTA ASING

Foreign exchange markets merupakan saluran-saluran untuk perdagangan valuta asing dimana ditetapkan harga-harga dari mata uang asing secara relatif. Instrumen-instrumen yang diperdagangkan (trading instrument) terdiri dari berbagai jenis, namun secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Instrumen Tunai dan Instrumen Derivatif.

  1. Instrumen Tunai (Cash Instrument)

Perdagangan instrumen-instrumen tunai memiliki karakteristik yang khas, yaitu yang diperdagangkan adalah nilai pokok (notional amount) dari istrumen.

Instrumen- instrumen tunai terdiri dari :

  1. Bank Notes
  2. Spot Valuta Asing
  3. Forward Valuta Asing
  1. Instrumen Lembaga Keuangan
  2. Fixed Deposits atau Fixed Loans, merupakan funding atau lending yang dilakukan oleh lembaga perbankan lain untuk jangka waktu pendek.
  3. Notice Deposits atau Loans, instrumennya dalam valuta asing (dikenal dengan call) dan dalam Rupiah berupa Pinjaman Uang AntarBank (PUAB).
  4. Repurchase Agreement (Repos) atau Reverse Repos, adalah transaksi jual-beli instrumen pasar uang domestik atau pasar valuta asing dengan perjanjian bahwa penerbit/penjual berkewajiban membeli kembali surat berharga yang dijual tersebut.
  5. Bankers’ Acceptance (BA) ada yang menyebut dengan istilah Time Draft (Wesel Berjangka), instrumen ini diterbitkan oleh eksportir karena Letter of Credit-nya sudah di-aksep oleh Issuing Bank yang ditunjuk importir.
  6. Negotiable Certificate of Deposits (CD), diterbitkan oleh suatu bank atas unjuk dimana sertifikat tertulis nominal, jangka waktu dan tingkat bunga.
  7. Commercial Papers (CP), serupa promes yang tidak ada jaminannya (unsecured promissory notes) dan tidak menggunakan underwriter. Dijual langsung atau melalui jasa arranger/bank kepada investor dengan mendapatkan fee tertentu.
  8. Treasure Bills (T-Bills), merupakan instrumen utang yang diterbitkan pemerintah atau bank sentral atas unjuk, nominal tertentu dan jangka waktu yang telah ditetapkan kurang dari satu tahun lamanya. Dengan demikian T-Bills mudah dijualbelikan dan dianggap aman karena di Indonesia disamakan dengan Sertifikat Bank Indonesia.
  9. Outward Remittance, merupakan layanan yang disediakan oleh bank untuk nasabah dan non-nasabah yang akan melakukan transfer dana ke pihak ketiga melalui bank koresponden dalam valuta asing antar negara.
  10. Inward Remmitance (Incoming Transfer) merupakan layanan yang disediakan bank untuk nasabah dan non-nasabah yang akan melakukan transfer dana ke pihak ketiga (remitter) diluar bank dalam valuta asing antar negara.
  11. Bank Draft, merupakan instrumen pembayaran yang diterbitkan oleh bank dalam valuta asing bagi nasabah atau non-nasabah.
  12. Traveller’s Cheque Sold (TC), merupakan layanan bagi nasabah atau non-nasabah suatu bank.
  13. Collection, yaitu jasa yang disediakan oleh bank bagi nasabah yang reputasinya baik dan mempunyai rekening di bank yang terkait.
  14. Obligasi Valuta Asing (Foreign Exchange Bonds), merupakan instrumen pasar modal yang transaksi jualbelinya di pasar sekunder.
  15. Ekuitas Valuta Asing (Foreign Exchange Equity), ekuitas valuta asing dikaitkan dengan nilai tukar.
  16. Transaksi Komoditas (Foreign Exchange Comodity)
  1. Instrumen Derivatif (Derivative Instruments)

Derivatif adalah sebuah kontrak bilateral atau perjanjian penukaran pembayaran yang nilainya diturunkan atau berasal dari produk yang menjadi “acuan pokok” atau juga disebut “produk turunan” (underlying product). Investor yang akan bertransaksi pada instrumen derivatif sebaiknya memahami barometer ekonomi, yang kejadiannya juga seringkali berulang secara historis. Instrumen-instrumen derivatif umumnya diperdagangkan sebagai portofolio investor yang digunakan oleh manajemen investasi atau manajemen portofolio suatu perusahaan bisnis, perusahaan jasa atau bank.

Ada dua jenis kontrak derivatif yang dikenali dari cara perdagangannya, yaitu derivatif yang ditransaksikan diluar bursa dan derivatif yang ditransaksikan di bursa. Instrumen derivatif umumnya ditransaksikan dalam hedge funds, swap dan opsi keuangan.

VI. RESIKO TRANSAKSI PADA PASAR VALUTA ASING

Secara umum sebelum para investor membeli valuta asing, mereka perlu mempertimbangkan dua faktor, yakni : risiko dan likuiditasnya. Risiko merupakan suatu unsur kepastian akan besar kecilnya suatu aset keuangan dalam memberikan tambahan kekayaan bagi investor/pemiliknya. Sedangkan likuiditasnya ditinjau dari mudah tidaknya aset keuangan tersebut dijual atau ditukarkan dengan barang atau mata uang tertentu.

  1. Kondisi Keseimbangan Pasar : Interest Parity

Nilai tukar yang berlaku di pasar merupakan satu-satunya penentu kesediaan para pelaku pasar untuk mempertahankan atau menyerap penawaran berbagai valuta asing yang ada. Antara permintaan dan penawaran valuta asing di pasar, dapat terjadi keseimbangan apabila semua investasi dalam berbagai mata uang menawarkan perkiraan imbalan yang sama. Kondisi ini disebut paritas suku bunga (interest parity).

  1. Meminimalkan Resiko

Bila suku bunga dan perkiraan nilai tukar masa mendatang tetap maka kondisi interest parity menjamin adanya keseimbangan nilai tukar. Seandainya perkiraan imbalan dari investasi Ŀ lebih besar daripada investasi $. Jika semua kondisi lainnya/khusus-tetap, depresiasi $ saat ini akan mengurangi perkiraan tingkat depresiasi terhadap Ŀ di masa mendatang. Demikian pula halnya bila perkiraan imbalan terhadap Ŀ lebih kecil dari investasi $, maka $ akan segera mengalami apresiasi terhadap Ŀ.

  1. Efisiensi Pasar Valuta Asing

Kinerja pasar valuta asing dalam mengkomunikasikan signal-signal harga yang cukup tepat kepada para dealer dan investor memang sulit dikemukakan dalam suatu kalimat tegas. Berbagai upaya untuk menciptakan model atas faktor-faktor empiris sampai saat ini agaknya belum berhasil. Oleh karena itu sebelum bertransaksi investor harus menentukan pasangan mata uang, yaitu mata uang dasar dan mata uang alternatif.  Jangka waktu investasi dan nilai mata uang dasar akan menjadi pemicu (strike price sebagai nilai tukar dua mata uang yang ditemtukan dan disetujui) dari mata uang alternatif yang diterima investor pada akhir masa investasi.

Jadi investor perlu mempertimbangkan untuk berinvestasi pada mata uang asing, jika perusahaan maupun individunya telah menyadari paling sedikit terdapat 4 (empat) hal yang dapat dijadikan pedoman strategisnya :

  1. Investor mempunyai toleransi risiko dalam pergerakan mata uang untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang tinggi
  2. Investor memiliki kebutuhan dalam mata uang yang berbeda.
  3. Jika investor tidak keberatan memiliki mata uang yang pergerakannya “diproyeksikan melemah”
  4. Jika nilai tukar antara dua mata uang pilihan yang diproyeksikan bergerak relatif stabil.

Transaksi bisnis valas dapat dilakukan melalui bursa valuta asing, baik yang terpisah maupun yang digabungkan dengan indeks harga saham seperti Nikkei, Hangseng atau Down Jones. Di bursa dunia menjadi investor yang akan melakukan transaksi valuta asing tidak terlampau sulit prosedurnya. Investor akan mendapatkan penjelasan dari marketing atau broker, mengenai karakter dari masing-masing mata uang. Staf marketing sebagai broker akan memberikan saran untuk mengambil posisi dalam transaksi. Selanjutnya nasabah dan/atau dengan perantaraan broker dapat melakukan transaksi. Keuntungan akan diperoleh investor apabila harga bergerak sesuai dengan posisi yang diambil.